Dilema Penggunaan Kekuatan oleh Aparat Kepolisian dalam Pengendalian Massa di Stadion: Antara Keamanan Publik dan Hak Asasi Manusia
Abstract
This study evaluates the normative coherence between the FIFA Stadium Safety and Security Regulations and national public law, while mapping the legal liability gaps of police officers in stadium security. Employing a juridical-doctrinal approach, this research analyzes primary legal materials (Indonesian National Police Regulation No. 10 of 2022 and FIFA statutes) alongside secondary materials (the doctrines of lex sportiva and command responsibility). The findings indicate that the textual transition to Article 31 of Indonesian National Police Regulation No. 10 of 2022, which prohibits firearms and tear gas, creates an illusion of coherence, wherein operational emergency discretion remains vulnerable to obscuring the command liability of mid-ranking officers. The study concludes that closing these accountability gaps requires three doctrinal pillars: (1) elevating the violation of instrument prohibitions into a material unlawful act that breaks the impunity of discretion, (2) formalizing the boundaries of civil and public liability between inner-ring stewards and outer-ring police, and (3) rejecting the protective shield of the ambtelijk bevel doctrine for force-deployment orders that breach international safety norms.
Abstrak
Penelitian ini mengevaluasi koherensi normatif antara FIFA Stadium Safety and Security Regulations dan hukum publik nasional serta memetakan kesenjangan akuntabilitas hukum aparatur kepolisian dalam pengamanan stadion. Menggunakan pendekatan yuridis-doktrinal, penelitian menganalisis bahan hukum primer (Perpol No. 10/2022 dan statuta FIFA) dan sekunder (doktrin lex sportiva dan command responsibility). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi tekstual ke Perpol No. 10/2022 Pasal 31 yang melarang senjata api dan gas air mata menciptakan ilusi koherensi, di mana diskresi darurat operasional rentan mengaburkan command liability perwira menengah. Penelitian menyimpulkan bahwa penutupan celah akuntabilitas mensyaratkan tiga pilar doktrinal: (1) peningkatan pelanggaran pelarangan instrumen sebagai perbuatan melawan hukum materiel yang memutus impunitas diskresi, (2) formalisasi batas pertanggungjawaban perdata/publik antara inner-ring steward dan outer-ring Polri, serta (3) penolakan perlindungan doktrin ambtelijk bevel bagi perintah pengerahan kekuatan yang cacat norma keselamatan internasional.
Keywords
Koherensi NormatifLex SportivaPerpol No. 10/2022Pengamanan StadionReferences
Delyarahmi, S., & Siagian, A. W. (2023). Perlindungan terhadap Supporter Sepak Bola Ditinjau dari Perspektif Hak Asasi Manusia: Studi Kasus Tragedi Kanjuruhan. UNES Journal of Swara Justisia, 7(1), 89-102. https://doi.org/10.31933/ujsj.v7i1.314
Enggalani, B., & Suratman, T. (2024). Analisis Yuridis Sosiologis Pelaksanaan Pengendalian Aksi Massa di Stadion Kanjuruhan Kepanjen. MLJ Merdeka Law Journal, 5(1), 14-23. https://doi.org/10.26905/mlj.v5i1.14002
Foster, K. (2006). Lex Sportiva and Lex Ludica: The Court of Arbitration for Sport and International Sports Law. Entertainment Law, 5(2), 2–22. https://doi.org/10.16997/eslj.112
Geovany, M. M. D., & Haniyah, H. (2023). Analisis Standar Operasional Prosedur dalam Pengamanan Pertandingan Sepak Bola: Studi Kasus Stadion Kanjuruhan. Mandub: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora, 1(4), 93-100. https://doi.org/10.59059/mandub.v1i4.571
FIFA (2022). FIFA Stadium Safety and Security Regulations. Fédération Internationale de Football Association.
James, M., & Pearson, G. (2016). Legal Responses to Football Crowd Disorder and Violence in England and Wales. In Legal Responses to Football Hooliganism in Europe (pp. 35-52). TMC Asser Press.
Kepolisian Negara Republik Indonesia (2002). Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2.
Kepolisian Negara Republik Indonesia (2009). Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.
Kepolisian Negara Republik Indonesia (2022). Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2022 tentang Pengamanan Penyelenggaraan Kompetisi Olahraga.
Kraska, P. B. (2007). Militarization and Policing—Its Relevance to 21st Century Police. Policing: a Journal of Policy and Practice, 1(4), 501-513. https://doi.org/10.1093/police/pam065
Pearson, G., & Stott, C. (2022). Understanding the Psychology of Football Crowds. In A New Agenda For Football Crowd Management: Reforming Legal and Policing Responses to Risk (pp. 171-205). Springer International Publishing.
Ryan, B. J. (2013). Reasonable Force: The Emergence of Global Policing Power. Review of International Studies, 39(2), 435-457. https://doi.org/10.1017/S0260210512000137
Setiawan, M., & Darmawan, C. (2023). Strengthening Democratic Policing in the Perspective of Civic Education: A Conceptual Analysis. Jurnal HAM, 14(3), 217-234. https://doi.org/10.30641/ham.2023.14.217-234
Shidiq, D. Y., & Kartika, A. W. (2025). Disharmonisasi Peraturan PSSI terhadap Peraturan FIFA dalam Pengendalian Massa di Stadion. Widya Yuridika, 8(2), 267-280. https://doi.org/10.31328/wy.v8i2.6327
Tim Gabungan Independen Pencari Fakta [TGIPF] Tragedi Stadion Kanjuruhan. (2022). Laporan akhir Tim Gabungan Independen Pencari Fakta Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang. Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia.
United Nations (1990). Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials. Eighth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders, Havana, Cuba, 27 August–7 September 1990.
Weatherhill, S. (2014). Principles of International Sports Law. Oxford University Press.
Copyright & License
© 2026 Mula Juliana, Rosmawar Rosmawar (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.